Kangen Band Dengar Dan Rasakan

Kangen Band Dengar Dan Rasakan

biarlah sendiri, biar ku pahami

hadirku di sini buat kau bersedih

biarlah kecewa, biar ku terluka

biar ku tercela, asal kau bahagia

 

seringku berjanji, namun ku ingkari

seringku berdusta, aku tak setia

lelahku melangkah sesat tanpa arah

mencari pelita, sebuah cahya cinta

 

reff:

cobalah kau rasakan

akan hasil karya ciptaku

cobalah kau dengarkan

sebuah lagu maaf untukmu

 

cobalah kau rasakan

panggilan di dalam hatiku

cobalah kau terbangkan

dua sayap pada pundakmu

 

repeat reff [2x]

 

cobalah kau rasakan

akan hasil karya ciptaku

cobalah kau dengarkan

sebuah lagu maaf untukmu

Kangen Band merupakan band beraliran pop melayu yang dibentuk 4 Juli 2005. Grup asal Lampung ini terdiri dari Andika (vokal), Dody (gitar), Tara (gitar), Lim (drum), Izzy (keyboard) dan Bebe (bass). Nama Kangen Band sendiri dipilih oleh Dody dengan alasan supaya karya mereka selalu dirindukan oleh para penggemar.

Kangen Band mulai manggung dari festival musik dan sempat meraih trofi Walikota Lampung untuk predikat Best Vokal and Song di tahun 2005. Beberapa lagu karya mereka seperti “Cinta Yang Sempurna” kemudian mulai dikirim ke berbagai radio di Lampung. Tak disangka lagu tersebut sukses besar hingga provinsi lainnya.

Namun sayang kesuksesan mereka harus dihantui dengan kasus pembajakan. Para oknum-oknum yang tak bertanggungjawab merekam lagu mereka dan menjualnya ke masyarakat dalam bentuk cd bajakan. Meski begitu, Kangen Band merasa berterima kasih dengan para pembajak tersebut karena berkat mereka nama band ini bisa terangkat. “Kami malah sering disebut band hantu, ada karya tapi bandnya sendiri belum ada albumnya,” ujar Dody.

Akhirnya Kangen Band merilis album pertama mereka di bawah label Warner Music Indonesia dengan judul “Tentang Aku, Kau dan Dia” (2007). Mengusung tema percintaan, album ini sukses besar di pasaran dan membawa mereka memenangkan piala SCTV Award 2007 sebagai Grup Band Terfavorit.

Tak berselang lama, Kangen Band kembali ke blantika musik Indonesia dengan album “Bintang 14 Hari” (2008) lalu disusul dengan “Pujaan Hati” (2009) dan “Jangan Bertengkar” (2011). Sepanjang karirnya, Kangen Band berhasil menjual lebih dari 1 juta kopi untuk album-album mereka.

Kangen Band dikenal sebagai band yang merangkak dari nol. Aktivitas para membernya sebelum terkenal pun merupakan pekerjaan rendahan seperti kuli atau penjual es. Karena latar belakang itulah, Kangen Band kerap dihina sebagai band kampungan. Namun hinaan tersebut justru dijadikan motivasi Kangen Band untuk membintangi sebuah sinetron berjudul “Aku Bukan Kampungan” (2007). Dari sinetron tersebut, mereka memberi sebuah pelajaran untuk selalu berusaha meraih kesuksesan meski berasal dari golongan kecil.

Kangen Band juga pernah muncul sebagai cameo di film “Minggu Pagi di Victoria Park”(2010). Dalam film arahan Lola Amaria ini, Kangen Band berperan sebagai grup musik yang menghibur para TKW di Hong Kong.

Kangen Band sempat menjadi pemberitaan publik ketika ditangkap secara bersamaan di basecamp mereka di kawasan Cibubur, Jakarta timur, akibat menggunakan narkoba, 2011. Polisi menemukan 3 pot tanaman ganja di basecamp mereka. Setelah melalui tes urine ternyata hanya dua orang member saja yang postif menggunakan narkoba, yaitu adalah Andika dan Izzy. Akibat perbuatannya ini mereka akhirnya dijatuhi hukuman 1 tahun penjara.

Sang vokalis, Andika, terpaksa dipecat dari band yang membesarkan namanya tersebut tak lama setelah bebas dari penjara. Diduga ia dipecat karena melanggar kontrak akibat berkarir solo di luar label rekaman resmi.

Setelah Andhika hengkang, Kangen Band lalu mencari vokalis baru dengan mengadakan audisi yang diikuti oleh 5000 peserta. Dari ribuan peserta tersebut akhirnya terpilihlah Reyhan sebagai vokalis menggantikan Andhika. Bersama Reyhan, Kangen Band merilis album kompilasi berjudul “The Best of Kangen Band” (2013) dengan single andalan “Ijab Kabul”.

Kangen Band Dengar Dan Rasakan (5)

Kategori :

Lirik Lagu,

Kangen Band,

Tag:

Lirik Lagu dengar dan rasakan,

Kangen band dengar dan rasakan,

dengar dan rasakan kangen band,

Lirik Lagu kangen band,

dengar dan rasakan kangen band,

Lagu dengar dan rasakan,

Cara Membuat Kue Lapis Tepung Beras Pelangi

Cara Membuat Kue Lapis Tepung Beras Pelangi

Makanan Kue lapis merupakan salah satu jajanan pasar atau jenis makanan tradisional yang banyak digemari anyak orang. Kue yang satu ini termasuk dalam golongan kue basah yang sangat enak. Selain memiliki rasa yang manis, kue basah ini juga memiliki tekstur yang sangat kenyal. Kue lapis adalah kue yang banyak dijumpai dipasaran terutama pasar tradisional dan toko kue. Kue ini memiliki warna-warni yang menarik sehingga dapat membuat anak menjadi suka. Tidak hanya untuk anak-anak, karena kue ini sangat cocok dikonsumsi oleh siapapun bagi yang menyukainya. Berikut adalah proses pembuatan kue lapis tepung beras yang kenyal.

Baca Juga Informasi :

Bahan-bahan kue:

350 gr tepung beras putih

350 gr gula pasir

1 sendok teh garam

125 gr tepung sagu

1.5 liter santan kelapa

pewarna makanan secukupnya

2 lembar daun pandan ( dicuci bersih )

Cara Membuat Kue Lapis Tepung Beras Pelangi :

rebus santan dengan daun pandan dan garam diatas api sedang sambil diaduk-aduk supaya tidak pecah, tunggu sampai mendidih

siapkan satu wadah lalu masukkan tepung beras, tepung sagu dan gula pasir campur menjadi satu

tuang santan yang sudah direbus kedalam campuran tepung, aduk rata

bagi adonan menjadi beberapa bagian ( tergantung berapa warna yang digunakan )

setelah adonan dibagi lalu beri warna pada masing-masing bagian adonan, aduk sampai tercampur rata

panaskan langseng lalu masukkan satu lapis warna adonan kedalam loyang, tunggu sampai setengah matang

lalu masukkan lagi warna berikutnya ( lakukan berulang-ulang sampai selesai dan matang )

potong-potong kue lapis dan sajikan diatas piring saji

Cara Membuat Kue Lapis Tepung Beras Pelangi (4).jpg

Cara membuat kue lapis ,

Kue lapis ketan,

Resep kue lapis sanji,

Buat kue lapis terigu,

Pasang Behel GigiAhli Behel Gigi Atas Saja

Pasang Behel Gigi Ahli Behel Gigi Atas aja

Pasang Behel GigiAhli Behel Gigi Atas Saja

Belakangan beredar trend baru di antara anak-anak muda di Indonesia, yaitu memasang kawat gigi pada gigi mereka demi penampilan yang up to date. Namun, apakah kalian semua mengerti apa fungsi sebenarnya dari kawat gigi? Dan apakah tepat menggunakan kawat gigi sebagai jenis fashion baru untuk remaja?

Kawat gigi merupakan sebuah alat yang digunakan untuk memperbaiki letak, posisi, maupun kelainan susunan gigi geligi.  Kawat gigi sendiri dapat dibedakan menjadi 2, yaitu kawat gigi lepasan dan cekat. Kawat gigi lepasan adalah kawat gigi yang dapat dilepas pasang sesuai keinginan, cirinya yaitu memiliki plat berwarna merah muda di bagian langit-langit mulut maupun bagian dalam menghadap lidah. Sebenarnya kawat gigi jenis ini cukup nyaman digunakan karena dapat kita buka dan pasang sesuka hati serta dapat kita bersihkan dengan mudah. Namun justru karena sifatnya yang dapat dengan mudah dilepas dan pasang inilah yang kemudian membuat alat jenis ini kurang efektif dan umumnya sangat lama dalam mengubah posisi gigi yang diinginkan.

Jenis kedua yaitu kawat gigi cekat merupakan jenis kawat gigi yang lebih populer di dalam masyarakat saat ini, contohnya yaitu braket atau “behel”. Kata cekat dalam jenis kawat gigi jenis ini berarti kawat gigi tidak akan dapat dilepas dengan mudah setelah ia terpasang di gigi anda. Kawat jenis ini juga dapat digunakan untuk memperbaiki posisi beberapa gigi sekaligus sehingga penggunaannya jauh lebih efektif dari kawat gigi lepasan tadi. Namun, karena kawat cekat harus menempel langsung di gigi kita maka proses pemasangannya pun menjadi jauh lebih lama dan susah dibandingkan kawat lepas yang mudah dilepas dan pasang. Teknik dan pengalaman dari dokter gigi sangatlah mempengaruhi cepat lambatnya pemangan bracket, karena itulah tarif pemasangan kawat gigi jenis ini umumnya sangat mahal.

Kemudian apakah benar apabila kita memasang kawat gigi hanya untuk mengikuti fashion atau trend terbaru? Sebagai dokter gigi tentunya saya sarankan tidak. Kenapa? Kawat gigi terutama jenis cekat (behel) memiliki sifat untuk bergerak kembali ke bentuknya semula apapun jenis dan mereknya. Jadi tidak peduli apapun yang dikatakan oleh dagang-dagang behel yang kini banyak beredar di media online, behel tetap akan menggerakkan gigi kita sekali kita memasangnya di gigi kita. Sehingga apabila kalian memiliki gigi yang sebenarnya sudah rapi, kemudian kalian kembali memasang behel pada gigi kalian maka kemungkinan untuk gigi kalian berubah bahkan justru menjadi berantakan tetaplah ada.

Pemasangan behel juga tidak dapat dilakukan secara sembarang. Karena dalam proses pemasangan diperlukan pertimbangan yang sangat banyak, untuk memperoleh hasil maksimal dan juga pergerakan gigi yang aman. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk melakukan pemasangan kawat gigi terutama jenis cekat (behel) langsung ke dokter gigi spesialis orthodontia, atau paling tidak dokter gigi yang dalam proses kuliahnya tentu telah mengerti teori pemasangan kawat gigi yang benar karena selama ini telah banyak kasus pemasangan sembarang di tempat-tempat yang belum tentu mengerti cara memasang kawat gigi yang benar juga akhirnya menghasilkan kondisi gigi yang sembarang juga. Gigi justru menjadi berantakan dan biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki gigi pun menjadi berlipat ganda.

Telp/SMS/Whatsapp :

Pak hambali 085711372272

Email : konsultaninfo@gmail.com

Jakarta : Jl. Batu Permata, No. 21 Dekat SDN I Batu Ampar, Kramatjati, Jakarta Timur 13520.

Kami Melayani Delivery Order Wilayah Jabodetabek. Anda cukup telepon, Kami respon datang ke tempat anda.

Rawatlah gigi dan mulut anda dengan baik dan benar serta lakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi tiap 6 bulan sekali. Sekian 🙂

Pembaca sekalian pasti sudah sangat tidak asing dengan istilah  behel. Behel atau bracket dalam dunia kedokteran gigi  juga dikenal sebagai Kawat Gigi adalah alat yang digunakan dalam perawatan ortodontik yang membantu menyelaraskan dan meluruskan gigi dan membantu posisi  geligi pada posisi ideal di mana gigi atas dapat menggigit gigi bawah dengan sempurna. Behel  atau  bracket merupakan alat ortodontik cekat yang sering juga dengan peralatan ortodontik lain untuk membantu memperluas langit-langit mulut atau rahang dan sebaliknya membantu dalam membentuk gigi dan rahang.

Berdasarkan sejarah pemakaian behel sudah dimulai sejak tahun 400-500 BC hal ini dibuktikan dengan penemuan mumi dari zaman tersebut di mana pada mumi ditemukan band pembungkus gigi berupa kabel yang terbuat dari serat alami usus hewan yang mana hal ini merupakan bagian ortodontic yang berguna untuk meluruskan kesenjangan pada gigi mereka. Sementara di  Romawi ditemukan sebuah makam kuno dengan jenazah yang giginya berisi lempengan emas yang diduga merupakan sebuah peralatan untuk meluruskan kesenjangan gigi, namun karena kurangnya bukti penelitian mengenai hal ini tidak diteruskan.

Sekarang behel tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk merapikan geligi dan mengembalikan fungsi kunyah gigi menjadi lebih baik. Saat ini behel sudah merambah ke arah trend dan fasion di mana orang-orang memakai behel bukan saja karena ada masalah pada giginya namun karena faktor pergaulan dimasyarakat. Hal ini tentu saja bukan masalah apabila dari segi finansial mendukung. Untuk melakukan perawaan behel diperlukan dana yang tidak sedikit untuk satu kali perawatan berkisar antara 3 Juta – 20 Juta tergantung kasus pada pasien bahkan ada yang menarik bayaran lebih mahal lagi, untuk kontrol biasanya berkisar antara 50rb – 100rb/kunjungan.

Dibalik persoalan biaya sekarang harus diingat penggunaan kawat gigi atau behel tidak hanya sekedar masalah fasion, tidak juga sekedar asal rapi. Rapi tentu saja tidak cukup, setelah perawatan selesai gigi harus bisa berfungsi untuk mengunyah dengan sempurna. Gigi atas harus bisa menggigit dan bertemu gigi bawah dengan baik, karena salah satu dari fungsi kawat gigi atau behel adalah untuk memperbaiki gigi dari keadaan gigi atas tidak bertemu atau menggigit gigi bawah dengan baik (bahasa kerennya : maloklusi) yang disebabkan oleh susunan gigi yang tidak beraturan, bentuk rahang yang salah atau kombinasi dari kedua hal tersebut.

Perawatan dengan kawat gigi atau behel (istilah kedokterannya : perawatan ortoddontik) yang dilakukan oleh orang yang benar-benar memahami ilmu ortodontik dapat memperbaiki kesalahan bentuk atau posisi dari rahang. Perbaikan dari susunan gigi dan rahang juga akan mempengaruhi bentuk atau profil wajah dari seseorang secara keseluruhan.

Tanpa ilmu yang benar pemakaian kawat gigi bisa membuat  wajah anda menjadi aneh. Mereka yang tidak mengerti ilmu ortodontik secara benar (atau hanya mengetahui sepotong-sepotong) hanya akan membuat gigi pasien terlihat rapi namun belum tentu posisi rahang pasien pas untuk menggigit antara gigi atas dan gigi bawah (oklusi). Lebih celaka lagi melakukan pemasangan kawat gigi pada orang yang tidak berpengalaman dan tidak memiliki ilmu yang cukup bisa membuat wajah pasien menjadi lebih aneh dari semestinya.

Saat ini banyak iklan dari tukang gigi di media elektronik, media cetak, bahkan sudah ke media online yang menawarkan pemasangan kawat gigi murah, cepat dan rapi. Namun sadarkan kalian bahwa dalam iklan promosi tersebut tidak ada yang menawarkan gigi anda dapat berfugsi dengan baik setelah perawatan. Perawatan yang dilakukan oleh orang yang bukan ahli di bidang orthodontik hanya akan membuat masalah baru pada gigi si pasien. Belum lagi resiko tertular oleh penyakit lain yang disebabkan oleh alat-alat yang digunakan.

Bagaimanapun juga seseorang yang berpredikat dokter gigi memerlukan waktu yang lama yakni 3 (tiga) tahun untuk mempelajari mengenai ilmu meratakan gigi (ortodontik). Sedangkan seorang dokter gigi biasa hanya berkesempatan untuk mempelajari alat ortodontik lepasan dan tidak diajarkan untuk memasang behel atau alat ortodontik cekat.

Seorang tukang gigi (atau istilah lainnya : ahli gigi) di pinggir jalan sama sekali tidak pernah mendapatkan pendidikan formal sebagai seorang dokter gigi dan tidak memiliki kualifikasi untuk merawat gigi pasien khususnya melakukan pemasangan kawat gigi atau behel. Apapun alasannya, walau katanya si tukang gigi sudah pernah belajar tentang kawat gigi dan sebagainya tetap saja kualifikasi mereka masih jauh dari seorang dokter gigi spesialis orthodontik maupun dokter gigi umum.

Sekarang ini kembali lagi kepada masyarakat untuk mencerna, pasang kawat gigi pada dokter gigi non spesialis saja tidak dianjurkan apalagi memasang kawat gigi pada praktek “tukang gigi” atau “ahli gigi” di pinggir jalan. Sebagian masyarakat yang tidak mengetahui masalah perawatan orthodontik secara umum sudah pasti menganggap remeh masalah ini. Namun tahukan anda pemakaian alat-alat kedokteran gigi yang tidak memenuhi standar kesehatan pada waktu pemasangan behel atau kawat gigi bisa menyebabkan infeksi silang dan membahayakan kesehatan.

Untuk menghindari penyakit tertular dari satu pasien ke pasien lain atau ke dokter gigi yang bisa saja melalui air liur atau darah si dokter gigi menggunakan barier berupa sarung tangan dan masker yang hanya boleh digunakan sekali. Artinya hanya digunakan untuk 1 (satu) pasien. Alat-alat yang digunakan oleh dokter gigi merupakan alat steril yang setelah digunakan pada 1 (satu) pasien dibersihkan dan dimasukkan ke alat sterilisasi khusus atau langsung dibuang apabila menggunakan alat disposible.

Sekarang tinggal dibayangkan apabila melakukan perawatan kawat gigi pada orang yang tidak memiliki pengetahuan yang lebih dibidang tersebut? Mereka tidak mendapatkan pengetahuan mengenai cara sterilisasi peralatan yang digunakan, tidak memiliki kualifikasi yang lebih untuk merawat gigi yang tidak beraturan. Bisa jadi gigi si pasien bukannya menjadi baik dan sehat namun akan menimbulkan masalah baru yakni resiko terkena penyakit menular seperti HIV, Hepatitis, gigi goyang, rahang sakit saat membuka mulut dan masih banyak lagi akibat buruk yang akan ditimbulkan.

~Pernahkah anda ke tukang gigi? Di dekat rumah ada “ahli gigi” yang melayani cabut gigi dan pasang behel. Tapi saya tidak pernah mampir. Soalnya saya belum pernah merasa sakit gigi. Tidak mungkin juga saya pasang behel. Biarlah gigi saya dengan tampilan apa adanya. Lagi pula, andai ada urusan dengan gigi, saya pasti pergi dokter gigi. Kenapa pilih dokter gigi daripada tukang gigi? Sederhana saja, dokter gigi ada pendidikannya.

Beberapa hari ini ada berita heboh terkait tukang gigi. Menteri Kesehatan mencabut kewenangan praktek tukang gigi. Sontak saja, tukang gigi resah. Puluhan tahun mereka menekuni pekerjaan ini, tiba-tiba tidak boleh praktek sama sekali. Alamat menjadi pengangguran, begitu beberapa media menyebutnya. Tak urung, DPR pun mendesak agar Menkes membatalkan Permenkes pencabutan praktek tukang gigi itu. Tertarik dengan berita ini, saya pun coba menelusuri.

Tukang Gigi juga melayani ortodonti

Ada yang menarik dari sisi pengaturan tukang gigi ini. Dengan alasan keterbatasan ketenagaan gigi, Pemerintah pada Tahun 1969 (Permenkes 53 tahun 1969) melakukan pendaftaran dan perizinan tukang gigi untuk membuat gigi tiruan. Namun dengan berjalannya waktu, tukang gigi dalam melakukan pekerjaannya, melebihi kewenangan dan kompetensi yang dimiliki. Untuk itulah Pemerintah memandang perlu tukang gigi diawasi dan ditertibkan agar tidak merugikan masyarakat. Lahirlah Permenkes 399 Tahun 1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi.

Melalui Permenkes tersebut, kembali dipertegas apa yang boleh dan dilarang dilakukan oleh tukang gigi. Yang boleh hanya membuat dan memasang gigi tiruan lepasan dari Akrilik. Tukang gigi dilarang untuk:

Melakukan penambalan gigi dengan tambalan apapun

Pasang Behel GigiAhli Behel Gigi Atas Saja

Pasang Behel GigiAhli Behel Gigi Atas Saja

Melakukan pembuatan dan pemasangan gigi tiruan cekat/mahkota tumpatan tuang dan sejenisnya

Menggunakan obat-obatan yang berubungan dengan tambalan gigi baik sementara ataupun tetap

Melakukan pencabutan gigi,baik dengan suntikan maupun tanpa suntikan

Melakukan tindakan -tindakan secara medis termasuk pemberian obat-obatan

Mewakilkan pekerjaannya kepada siapapun

Yang perlu digarisbawahi dengan dikeluarkannya Permenkes 399 tahun 1989, Tukang Gigi yang telah memiliki izin berdasarkan peraturan tahun 1969 (Permenkes No. 53/DPK/I/K/1969), wajib mendaftarkan diri kembali (pembaharuan izin) ke Kantor Departemen Kesehatan Kabupaten/Kotamadya untuk jangka waktu tiga tahun dan dapat diperpanjang kembali hingga usia 65 tahun. Dan sejak itu, Pemerintah cq Depkes sesungguhnya tidak pernah lagi mengeluarkan izin terhadap tukang gigi baru.

Inilah ironisnya di negara kita ini. Secara peraturan tak ada izin baru, Tukang Gigi pun tumbuh subur. Dengan bebas mereka menjalankan pekerjaannya. Ada yang berizin dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, atau tanpa izin sama sekali. Dan disebabkan ketidaktahuan dengan peraturan dan ketidakmengertiannya kompetensi tukang gigi, ada juga Dinas Kesehatan yang memberi izin.

Tahukah kita bahwa keahlian tukang gigi umumnya didapat dari keturunan, otodidak atau alih keterampilan. Misalnya karena sudah lama jadi asisten tukang gigi, kemudian praktek sendiri. Tidak ada pendidikan formal tukang gigi. Berbeda dengan tekniker gigi, perawat gigi dan dokter gigi yang ada jenjang pendidikannya.

 

salah satu akibat pemasangan kawat gigi oleh tukang gigi

Pada masa desentralisasi kesehatan, perkembangan tukang gigi makin memprihatinkan. Tukang gigi baru bermunculan. Banyak tukang gigi tidak lagi membuat gigi tiruan lepasan, tetapi juga pasang behel, perawatan ortodonti, pencabutan, penambalan gigi, pembuatan mahkota akrilik atau porselen. Itu artinya pelanggaran, alias malpraktek.

Namun masyarakat pun awam tentang aturan, kompetensi dan kewenangan tukang gigi. Bagi konsumen, yang penting ada dan murah. Jika kemudian ada efek buruk dari akibat datang ke tukang gigi, anggap saja sudah resiko. Apalagi dilihat tukang gigi juga punya alat seperti dokter gigi.

Kenapa mesti ke dokter gigi yang lebih mahal kalauke tukang gigi pun bisa?   Karena memang tidak berkompeten dan berwenang, banyak ditemukan tukang gigi melakukan malpraktek. Apalagi saat behel menjadi tren remaja jaman sekarang. Seperti yang dikeluhkan dokter gigi kawan saya yang tak jarang terima pasien “hasil karya” tukang gigi. Biasanya pasien ini datang dengan kondisi gigi yang rusak.

Dalam hal penegakan hukum, pemerintah memang selalu kedodoran. Era desentralisasi, Pemerintah Pusat sudah “tak punya gigi” terhadap praktek tukang gigi yang melanggar. Yang dapat dilakukan secara normatif menetapkan aturan. Maka atas nama perlindungan kepada masyarakat dari pelayanan kesehatan yang tidak aman bermutu, Kementerian Kesehatan menetapkan Permenkes 1871 Tahun 2011 yang mencabut Permenkes 399 Tahun 1989.

Secara yuridis dan sosiologis, apa yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan sudah tepat. Permenkes 1871 tahun 2011 semacam “palu terakhir” untuk tukang gigi setelah diberi kesempatan sejak tahun 1969 dan tahun 1989. Dan tukang gigi yang menjalankan pekerjaannya sejak tahun itu memang sudah berusia lanjut. Lalu bagaimana dengan klaim akan adanya ribuan pengangguran sebagai dampak dari Permenkes 1871?

Mari kita lihat dengan lebih jernih. Seperti diungkap diawal tadi, bahwa semestinya sejak tahun 1989 tidak ada lagi izin bagi tukang gigi baru selain tukang gigi yang telah mendapatkan izin berdasarkan Permenkes 53 tahun 1969. Jadi kalau ada tukang gigi yang praktek itu tidak punya izin. Atau kalau punya izin berarti batal demi hukum. Namun meskipun melanggar hukum, bukankah tukang gigi itu pun tetap menjalankan usahanya?   Sejujurnya saya tidak yakin dengan ancaman gelombang pengangguran akibat permenkes tahun 2011 itu. Apa lacur, bangsa ini sudah kelewat bebal dengan peraturan dan memandang lumrah terjadinya pelanggaran hukum di sekitarnya.

Ditetapkannya Permenkes 1871 tahun 2011 yang mencabut kewenangan pekerjaan tukang gigi mengandung makna bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah tidak bisa tinggal diam terhadap pelayanan publik yang tidak sesuai standar dan tidak aman. Juga mengandung pesan kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam memilih layanan kesehatan. Ada amanat yang jelas dari Permenkes 1871 tahun 2011, agar Dinas Kesehatan dan Puskesmas melakukan pembinaan kepada tukang gigi. Bentuknya bisa dilakukan pendataan dan diarahkan untuk tidak praktek mandiri melainkan kerjasama dengan profesi tekniker gigi dalam pembuatan gigi tiruan di laboratoium teknik gigi. Tak menutup kemungkinan juga dilakukan pendidikan dan pelatihan sehingga tukang gigi ini menjadi tekniker gigi.

Baca Juga Informasi:Behel gigi Atas Bawah

Tak ada alasan mencabut gigi selain untuk kesehatan. Demikian juga, ketika “giginya” tukang gigi dicabut. Semoga ini bagian dari solusi, bukan menjadi masalah baru

Behel Gigi Atas Bawah

pasang behel atas saja berapa,

pasang kawat gigi atas saja,

pasang behel gigi atas saja,

harga pasang behel atas saja,

biaya pasang behel atas saja,

harga pasang behel atas saja di dokter gigi,

pasang behel rahang atas saja,

bolehkah pasang behel atas saja,

harga pasang behel gigi atas saja,

biaya pasang behel gigi atas saja

pasang behel gigi atas saja berapa

pasang behel atas saja

pasang behel atas bawah

pasang behel atas berapa

pasang behel atas bawah berapa

pasang behel bagian atas saja

pasang behel atas doang berapa

pasang behel atas harga

berapa harga pasang behel atas saja

pasang behel atas murah

pasang behel atas permanen